Catatan Hadi Nur

Icon

Hanya sebuah blog, jadi jangan dimasukkan ke hati

Mahasiswa program doktor (PhD)

Banyak buku dan tulisan yang ditulis untuk para mahasiswa program doktor (PhD), sebagai contoh: “Authoring a PhD Thesis: How to Plan, Draft, Write and Finish a Doctoral Dissertation“, “Journey to the Ph.D.“ dan banyak lagi … (anda dapat mencarinya di internet) — tetapi jarang sekali saya menemukan buku yang ditulis untuk pembimbimg mahasiswa program doktor (PhD).  Mungkin, kalau ditulis, buku ini tidak akan laku. Namun saya pikir ini juga penting karena mahasiswa akan dapat melihat proses pembimbingan dengan ‘perspektif’ yang berbeda.  Di bawah ini saya menuliskan beberapa aspek yang saya anggap penting untuk diketahui oleh khalayak ramai mengenai topik ini — karena saat ini saya sedang membimbing beberapa mahasiswa doktor di Universiti Teknologi Malaysia.  

Topik Penelitian

Mencari topik penelitian merupakan masalah yang paling utama dalam melakukan penelitian, termasuk penelitian ditingkat doktor. Mungkin diantara kita banyak yang mendengar bahwa hal yang paling susah dalam penelitian adalah mencari ‘masalah’ sehingga banyak yang mengatakan bahwa sebenarnya ilmuwan itu adalah ‘the problem seeker‘ bukannya ‘the problem solver‘.

Bagaimana cara memilih topik penelitian yang baik dan menarik merupakan suatu hal yang perlu diketahui sebelum kita memulai atau mencoba mendapatkan dana penelitian, karena mungkin kita dapat masuk ke dalam ‘perangkap’. Melakukan penelitian dengan tujuan yang ‘mengada-ngada’ adalah salah satu perangkap yang sukar dielakkan karena penelitian jenis biasanya dijumpai dilembaga-lembaga penelitian yang ‘kaya’ dan ‘maju’ seperti IBM, NASA, dan di Universitas-universitas terkenal seperti MIT, Caltech, UCLA dan sebagainya. Salah satu contoh riset jenis ini adalah penelitian mengenai “polywater” atau polimerisasi molekul H2O. Jika berhasil disintesis, polywater akan mempunyai berat jenis yang lebih besar dibandingkan air, dan viskositas yang 15 kali lebih besar dibandingkan air.  Walaupun fenomena polywater ini tidak masuk akal (implausible) tetapi adalah ‘mungkin’ (lihat http://www-2.cs.cmu.edu/~dst/ATG/polywater.html). Bagaimanapun, riset ini telah mendapatkan dana yang berlimpah dari U.S. Navy karena kemungkinan dapat digunakan di dunia militer.

Perangkap yang lain adalah riset ‘negative‘ dan `improvement‘ yang tujuannya hanyalah membuktikan sesuatu itu adalah ’salah’ atau hanya mengembangkan atau memodifikasi sesuatu yang sebenarnya sudah banyak diketahui dan dikerjakan orang lain. Riset seperti ini biasanya dapat menghasilkan banyak publikasi ilmiah, tetapi akan cepat dilupakan orang. 

Sebuah perangkap yang lain adalah riset ‘tool-driven‘, yang sifatnya hanyalah menyelesaikan masalah dengan metode-metode yang sudah diketahui atau dikembangkan dengan baik.

Riset yang terbaik adalah riset yang didorong oleh isu-isu saintifik yang penting yang ditangani dengan semua metode-metode yang tersedia. Caranya adalah, pilihlah topik yang hangat dimasa yang akan datang, dan nantinya anda akan menjadi ahli dalam topik tersebut dimasa topik riset tersebut mulai dibincangkan orang. Bagaimanapun, jenis riset ‘ideal’ yang terakhir ini susah untuk didapatkan, karena tidak ada metode apapun yang tersedia untuk mendapatkan topik seperti ini. Walaubagaimanapun, setidak-tidaknya kita sudah mendapatkan prespektif mengenai memilih topik penelitian, walaupun di  universitas saya mengajar (dan juga di Universitas lainnya), kebanyakan topik penelitian tersebut diberikan oleh pembimbing dan disesuaikan dengan proyek penelitian yang mempunyai dana, sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa mengenainya.

Literatur

Sekarang ini kita dapat dengan mudah mencari informasi-informasi mengenai riset di internet, sehingga kita menjadi ‘kebanjiran’ informasi. Kebanjiran informasi ini kadang-kadang membuat kita bingung untuk memilah-milah informasi mana yang penting dan berguna, dan mana yang tidak. Hal yang penting diketahui adalah mengetahui terlebih dahulu jenis literatur yang kita baca. Terdapat tiga jenis sumber bahan bacaan; Primary sources; Communications, Letters (contoh: Chemical Communications, Letters dalam Nature, Science, Journal of American Chemical Society, Journal of Catalysis dan lain-lain). Secondary sources; Full paper (regular articles). Tertiary sources; Reviews articles (contoh: Chemical Reviews) dan textbooks.

Tulisan-tulisan yang dimuat di primary sources biasanya merupakan hasil-hasil penelitian yang sifatnya priority communications yaitu hasil-hasil penelitian yang penting, menarik, dan belum ‘komplit’ tetapi perlu dilaporkan. Dalam proses penyerahan naskah, biasanya pengarang perlu membuat alasan kenapa tulisan tersebut dimuat dalam bentuk ‘letter‘ atau “communications“. Walaupun tulisan-tulisan dalam communications hanya terdiri dari dua atau tiga halaman, tingkat originalitasnya biasanya tinggi. Itulah sebabnya jurnal-jurnal yeng berbentuk communications mempunyai impact factor yang relatif tinggi. Jika penelitian tersebut sudah dirasakan komplit (walaupun sebenarnya dalam penelitian tidak akan pernah komplit), tulisan tersebut dapat dimuat di jurnal dalam bentuk full paper;

Jika bidang-bidang penelitian tersebut berkembang dengan pesat, dalam masa beberapa tahun kita akan menjumpai reviews articles yang memuat perkembangan bidang tersebut serta disertai pandangan mengenai masa depan penelitian dalam bidang tersebut. Review articles bisa jadi berbentuk textbooks. Jadi apa yang kita rujuk dalam tertiary sources merupakan hasil penelitian yang sudah ketinggalan beberapa tahun. Namun, sebagai pemula, untuk mendapatkan ide-ide dan mendapatkan gambaran apa yang telah dikerjakan orang adalah lebih baik memulai dari tertiary sources.

Sang pembimbing

Melihat perkembangan sistem pendidikan tinggi sekarang ini yang lebih mementingkan output (daripada process) dan serba instant, maka tidaklah mengherankan kita mendapati pembimbing yang tidak berkualitas — yang dulunya juga dibimbing dengan cara yang sama.  Saya banyak menerima keluhan dari mahasiswa program doktor di Universitas saya mengajar bahwa sang pembimbing tidak menguasai topik penelitian yang dikerjakan oleh mahasiswanya, sehingga mahasiswa tersebut terpaksa berdiskusi dengan ‘orang lain’ , sehingga praktis penelitian tersebut terpaksa dikerjakan tanpa ‘bimbingan’.  Yang lebih parah lagi adalah – walaupun sang pembimbing tidak mengerti apa yang dikerjakan oleh mahasiswanya — sang pembimbing selalu menuntut sang mahasiswa untuk menulis publikasi ilmiah.  Tujuannya jelas, untuk prestise dan juga kenaikan pangkat sang pembimbing. Jelas sekali, tidak terdapat unsur pendidikan dalam kasus ini. Yang pasti, mahasiswa doktor tersebut diperkuda oleh pembimbingnya. Biasanya, pembimbing jenis ini selalu berusaha mencari mahasiswa yang berprestasi tinggi, karena niatnya bukan untuk mendidik tetapi untuk ‘memperkuda’ mahasiswa tersebut – yang ujung-ujungnya demi prestise sang pembimbing.  Kadang-kadang realita ini tidak pernah diketahui oleh masyarakat umum, tetapi ini betul-betul terjadi di Universitas.

Makna hakiki penelitian pada program pasca sarjana di perguruan tinggi 

Dalam pandangan saya, idealnya, penelitian pada program pasca sarjana merupakan media untuk mencetak calon-calon peneliti, yang otomatis didalamnya terdapat unsur pendidikan. Seperti yang saya tulis di atas, kadangkala unsur pendidikan tersebut tidak nampak dalam proses pencetakan calon peneliti tersebut. Karena kebanyakan mahasiswa mendapatkan beasiswa dari research project, maka hubungan yang berlaku antara ‘pembimbing’ dengan ‘mahasiswa’ seolah-olah seperti hubungan ‘majikan’ dengan ‘orang gajiannya’. Bagaimanapun, sebagai mahasiswa kita harus sadar bahwa hakikat dari pendidikan di program pasca sarjana adalah mendidik kita untuk menjadi seorang peneliti. Jika seseorang berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut, maka dia dianugerahi gelar Doktor. Ada yang mengatakan bahwa, gelar Doktor itu; adalah sebuah penghargaan kepada seseorang, karena orang tersebut telah melakukan penelitian secara menyeluruh; dari merumuskan masalah, memecahkan masalah, melaporkannya dalam bentuk tulisan dan juga mempresentasikannya, dibawah bimbingan seorang pembimbing.

Jika penelitian tersebut dilaksanakan dengan metoda yang efektif dan efisien, tanpa disadari, kepribadian yang jujur, kritis, bertindak dengan hati-hati dan disiplin dapat terbentuk. Bagi saya, inilah unsur terpenting dalam pendidikan di pasca sarjana tersebut. Unsur ini kebanyakan sering tidak diabaikan, karena ‘output‘-lah yang lebih banyak diperhatikan. Sebagai contoh; salah satu hal yang nampaknya sepele tetapi sering dilupakan adalah penggunaan log book dalam penelitian. Dari pengamatan saya di sini maupun terhadap mahasiswa pasca sarjana Indonesia di Jepang, banyak yang tidak mempunyai log book penelitian. Jikapun punya, mereka tidak mengetahui cara menulis catatan-catatan penelitian di buku tersebut dengan benar. Walaupun ini nampaknya sepele, namun hal ini dapat mengajarkan kepada kita bagaimana berdisiplin, bekerja berstrategi, jujur dan rapi. Hal ini dapat kita jumpai dari saintis-saintis ulung zaman dahulu, dimana catatan-catatan penelitiannya yang hebat tersebut dapat kita saksikan sampai saat ini. 

Filed under: Pendidikan

Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia

[Tulisan ini telah dipublikasikan di koran Waspada pada bulan Mei 2004].

Melihat perkembangan Indonesia saat ini, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, sosial dan politik sangatlah memprihatinkan. Kekurangan dan ketinggalan negara kita dibandingkan dengan negara lain dari hampir disemua aspek yang disebutkan di atas dapat dirasakan, terutama oleh intelektual Indonesia yang tinggal di luar negeri, yang relatif dapat melihat dengan lebih jelas karena berada di “luar orbit”. Indikator-indikator yang terukur, seperti ekonomi, telah menunjukkan hal ini, sedangkan indikator-indikator yang susah diukur dapat kita bandingkan selama kita berada di Indonesia dan di luar negeri. Banyak pendapat yang menyoroti penyebab hal ini. Salah satunya adalah rendahnya mutu pendidikan. Sebagai orang yang telah menggeluti dunia penelitian dalam bidang sains, saya dapat merasakan bahwa dalam ilmu pengetahuan terdapat aspek-aspek etika yang kalau diterapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif. Saya berpikir bahwa dengan mengetahui aspek etika dalam sains, dan mengajarkannya kepada mahasiswa dapat membantu membentuk kepribadian yang baik. Apa yang saya rasakan selama menempuh pendidikan di Indonesia adalah bahwa aspek ‘pendidikan’ (etika) kurang diperhatikan. Dosen-dosen lebih cenderung hanya memberikan knowledge saja kepada para mahasiswanya, yang dapat kita sebut sebagai ‘pengajaran’. Aspek ‘pendidikan’ yang saya maksudkan adalah termasuk pembentukan sikap dan kepribadian. Hal ini penting karena saya berpendapat bahwa institusi pendidikan tinggi adalah benteng terakhir yang seharusnya bertahan dalam menghadapi krisis moral di Indonesia.

Etika sains, riset dan pendidikan

Sains, ilmuwan, riset dan pendidikan merupakan hal yang sangat berkaitan erat. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa riset dan mengajar merupakan hal yang bersifat perkalian bukan pertambahan, salah satu sifat utama yang melekat kepada seseorang yang digelari ilmuwan Ini berarti bahwa seseorang akan nol sebagai ilmuwan jika tidak melakukan riset. Dan juga berarti akan nol sebagai ilmuwan jika tidak mengajar.

Berdasarkan hal ini, tulisan ini mencoba memberikan gambaran pentingnya etika sains dan manfaatnya dalam pendidikan.

Sebelum kita masuk ke dalam permasalahan: apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, betanggung jawab dan sportif? Ada baiknya kita mengetahui apa itu sains dan etika. Cara pandang terhadap sains bisa bermacam-macam tergantung bagaimana kita mendefinisikan sains tersebut. Tapi ada baiknya, sesuai dengan tujuan tulisan ini, definisi dari sains diambil dari Oxford English Dictionary: “A branch of study which is concerned with a connected body of demonstrated truths, orwith observed facts systematically classified and more or less colligated by being brought under general laws, and which includes trustworthy methods for the discovery of new truth within its own domain”. Apa itu etika? Webster’s New Collegiate Dictionary mendefinikannya sebagai berikut: “1 …the discipline dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation 2 a: a set of moral principles and values b: a theory or system of moralvalues c: the principles of conduct governing an individual or a group.”

Dari definisi-definisi di atas kelihatan dengan jelas bahwa sains adalah alat untuk mencari kebenaran. Dan dapat disadari untuk mencari kebenaran kita perlu strategi yang beretika. Strategi disini adalah metode ilmiah. Bagaimanapun banyak terjadi pelanggaran etika dalam penelitian saintifik, yang disebut sebagai penipuan saintifik (scientific fraud).

Penipuan saintifik

Penipuan saintifik (scientific fraud) didefinisikan sebagai usaha untuk memanipulasi fakta-fakta atau menerbitkan hasil kerja orang lain secara sengaja,. Bagaimanapun, definisi penipuan saintifik tidak selalu jelas. Salah satu aspek dari penipuan saintifik adalah memanipulasi dan mengubah data. Pada tahun 1830, matematikawan dari Inggris bernama Charles Babbage menerangkan teknik manipulasi data. Di dalamnya termasuk trimming (menghapus data yang tidak cocok dengan hasil yang diharapkan) dan cooking (memilih data yang hanya cocok dengan hasil yang diharapkan sehingga membuat data lebih meyakinkan). Sains yang ideal adalah bahwa para ilmuwan seharusnya objektif dan melaporkan semua hasil pengamatan secara lengkap dan jujur. Bagaimanapun, ini tidak selalu ditemui dalam laporan-laporan ilmiah.

Sebagai ilustrasi, tiga kasus di bawah ini dapat memberikan gambaran bagaimana etika sains dijunjung tinggi dalam dunia ilmiah:

Kasus pertama

Faktor yang merumitkan pendeteksian penipuan saintifik adalah karena begitu banyaknya publikasi-publikasi yang diterbitkan setiap tahun di dunia. Lebih daripada 40,000 jurnal dan ratusan ribu artikel ilmiah setiap tahun telah diterbitkan Sangatlah susah untuk meneliti apakah sebuah artikel mengandung penipuan atau tidak, walaupun paper tersebut telah dipublikasikan melalui penjurian (reviewing process). Salah satu kasus yang terkuak kepermukaan adalah kasus Elias A. K. Alsabti pada akhir 1970 dan awal 1980. Alsabti adalah seorang warganegara Irak, memperoleh sarjana kedokteran di Irak dan datang ke Amerika Serikat pada 1977 untuk bekerja dalam bidang immunologi di Temple University di Philadelphia, dan dilanjutkan di beberapa buah institut. Alsabti didapati terlibat dalam penipuan saintifik. Dalam sebuah kasus penipuan, rekan kerjanya menemukan bahwa dia telah mengubah data dalam sebuah publikasi ilmiah. Dalam beberapa contoh yang lain, Alsabti melakukan perbuatan plagiat, mengambil data dari jurnal, dan mempublikasikannya lagi dalam jurnal yang lain

Dalam beberapa kasus yang lain, plagiat yang dilakukan oleh Alsabti dengan mudah dapat ditemukan karena kecerobohan dia dalam menghilangkan tanda-tanda bahwa data tersebut telah diambil dari artikel orang lain.  Sebelum kasus ini ditemukan Alsabti tealah memperoleh posisi di enam buah institut yang berbeda dan mendapatkan izin untuk membuka praktek kedokteran di dua negara bagian di Amerika Serikat. Kasus ini telah dipublikasikan di Nature, the British Medical Journal dan disebuah buku yang berjudul Stealing Into Print oleh Marcel C. Lafollette. Kasus ini ditutup setelah Alsabti ditemukan tewas kecelakaan mobil pada tahun 1991.

Kasus kedua

Kasus serius lain ditemukan pada tahun 1980an, dimana seorang kardiolog muda bernama John Darsee, yang bekerja di salah satu lembaga riset bergengsi di dunia yaitu Harvard Medical School di Boston, Massachusetts. Dia dikenal sebagai ilmuwan yang berbakat karena telah mempublikasikan hampir 100 artikel dan abstrak dalam masa dua tahun di Harvard.

Pada tahun 1981, rekan-rekan kerja Darsee mengetahui dan melaporkan kepada kepala laboratorium bahwa dia telah membuat data palsu dalam eksperimen. Mereka juga melaporkan bahwa Darsee juga telah memalsukan data di beberapa artikel yang telah dipublikasikan. Ketika diselidiki, Darsee mengaku telah melakukan hal tersebut. Penyelidikan berikutnya juga menemukan bahwa Darsee telah memalsukan data bukan saja di Harvard, tetapi di posisi sebelumnya di Emory University di Georgia dan bahkan ketika sebagai mahasiswa sarjana di Notre Dame University di Indiana. Darsee dikeluarkan dari Harvard dan ditutup kemungkinannya untuk menerima dana riset dari pemerintah. Artikelnya di jurnal yang memuat data palsu tersebut juga telah ditarik kembali.

Kasus ketiga

Kasus ketiga terjadi di Indonesia. Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2000 akhirnya membatalkan gelar doktor pada Ipong S. Azhar. Disertasi Ipong ini mulai menjadi masalah setelah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Radikalisme Petani Masa Orde Baru: Kasus Sengketa Tanah Jenggawah pada pertengahan 1999. Mochammad Nurhasim, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkejut setelah membaca bab demi bab buku itu, karena isinya sama dengan skripsinya. Ia lalu menulis surat ke Senat UGM, sekaligus mengirim salinan skripsinya. Ia juga membuat surat terbuka ke berbagai media massa. Intinya, ia menuduh Ipong melakukan plagiat dan mendesak supaya gelar doktor kolumnis itu dicabut. Dan, keputusan final telah dijatuhkan pada 25 Maret 2000 dalam Forum Rapat Senat UGM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ichlasul Amal, Rektor UGM, dan dihadiri 102 anggota senat. Gelar doktornya dibatalkan. Keputusan Senat UGM tentu didasarkan pada temuan Tim Peneliti kasus Ipong. Hampir semua data disertasi Ipong menggunakan data orang lain. Selain itu, data yang diserahkan saat ujian meraih gelar doktor tidak sama dengan disertasi yang dikumpulkan ke bagian arsip dan perpustakaan UGM. Disertasi yang diserahkan kepada penguji tidak menyebutkan sumbernya. Sementara, salinan disertasi yang diserahkan ke bagian arsip perpustakaan sudah mencantumkan sumber referensinya, yakni skripsi Mochammad Nurhasim.

Kesalahan lain yang berasal dari kecerobohan, kurang baiknya merancang eksperimen atau tidak tepat dalam menyalin catatan laboratorium bukan merupakan penipuan saintifik (scientific fraud) walaupun merupakan hal yang tidak dapat diterima dalam sains. Salah satu contoh kasus terbaru dalam hal ini telah dilaporkan di Chemical and Engineering News pada 6 Agustus 2001 dimana ilmuwan-ilmuwan di Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) telah menarik kembali artikel mereka yang dipublikasikan di Physical Review Letters. Di jurnal bergengsi ini, mereka mengklaim bahwa mereka telah menemukan unsur baru dengan nomor atom 118 dan 116 dari hasil reaksi inti antara 208Pb dengan ion 86Kr yang berenergi tinggi. Penarikan artikel ini didasarkan kepada hasil eksperimen yang tidak bisa diulang di laboratorium di Jerman dan Jepang. Penarikan ini sangat beralasan karena hasil riset ini akan memberikan impak yang tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa hukuman terhadap penipuan saintifik itu sangat jelas. Contoh kasus di UGM memberikan kesadaran kepada kita bahwa diperlukan suatu instrumen dan peraturan yang jelas untuk memperkecil kemungkinan penipuan saintifik. Berbeda dengan perguruan tinggi di negara maju, instrumen dan peraturannya mengenai penipuan saintifik di universitas di Indonesia ini tidak jelas dan belum diatur. Di samping itu, di negara maju, etika sains dimasukkan dalam kurikukum, untuk memberikan kesadaran dan melatih mahasiswa bahwa etika sains mutlak diperlukan di dalam riset. Sebagai gambaran umum, di dalam perkuliahan etika sains disamping diterangkan pentingnya etika sains juga diajarkan bagaimana menulis, melaporkan dan menganalisis data percobaan secara betul. Di Woodrow Wilson Biology Institute, mata kuliah ini diajarkan dalam kurikulum ilmu-ilmu biologi yang dianggap rawan terhadap penipuan. Hal ini juga disampaikan melalui tugas laboratorium. Sebagai gambaran bagaimana etika sains diajarkan, di bawah ini diberikan contoh kuliah etika sains di Woodrow Wilson Biology Institute, di mana sasaran dari kuliah tersebut adalah mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk membedakan antara kesalahan biasa dan penipuan saintifik. Menerangkan kepada mahasiswa konsekwensi dari penipuan saintifik. Memahami sifat atur-diri (self-regulating) dari riset. Di dalam perkuliahan itu diajarkan sejarah penipuan saintifik dan mahasiswa dilibatkan dalam diskusi mengenai implikasi dari penipuan saintifik. Juga diajarkan cara menganalisa rancangan eksperimen dan data untuk mendeteksi kesalahan dan penipuan saintifik. Dalam perkuliahan juga disimulasikan situasi dilema etika dimana terjadi konflik antara kejujuran dengan keuntungan pribadi. Praktikum diberikan dengan menekankan pentingnya kontrol dalam perancangan eksperimen. Sebagai contoh, dengan menempatkan mahasiswa dalam posisi melaporkan kesimpulan yang salah karena perancangan eksperimen yang salah.

Dari kasus dan penjelasan di atas, kita dapat mengatakan, jika etika sains secara betul diajarkan dan diterapkan, maka kita dapat menjawab pertanyaan: Apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif?

Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam penipuan saintifik, secara umum, ada tiga hal yang memotivasi orang untuk melakukan penipuan saintifik: Pertama adalah tekanan karir, dimana untuk melancarkan karir, seseorang terpaksa untuk melakukan penipuan. Tekanan ini dapat terlihat bagi para mahasiswa program doktor di Jepang yang rata-rata harus mempunyai publikasi di jurnal dalam bidangnya untuk memperoleh gelar doktor. Kedua, mengetahui atau berusaha menjawab pertanyaan dari riset tanpa susah payah melakukan eksperimen yang memakan waktu dan tenaga di laboratorium. Ketiga, bekerja pada bidang dimana hasil eksperimen tidak akan selalu sama jika diulang (reproducible). Hal ini dapat menjelaskan mengapa penipuan saintifik banyak terjadi pada bidang biologi dan biomedik, karena sulit mendapatkan data-data yang betul-betul bisa diulang, karena tergantung kepada banyak faktor yang susah dikontrol.

Antisipasi untuk Indonesia

Melihat kepada kemajuan zaman, mau tidak mau bangsa Indonesia harus menguasai ilmu dan teknologi. Hal ini tidak hanya dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kerangka etika (dalam arti yang luas), walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan banyak berpengaruh dengan banyaknya kasus-kasus penipuan saintifik. Hal ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai daya untuk memperbaiki dirinya sendiri (self correction). Hal ini sesuai dengan sifat ilmu pengetahuan yang berkembang berdasarkan pengetahuan yang telah ditemukan sebelumnya. Bagaimanapun, mentalitas yang jujur mutlak diperlukan sebagai landasan untuk mencapai kemajuan. Pengajaran etika sains kepada para mahasiswa sarjana, magister dan doktor diharapkan dapat menambah kesadaran para mahasiswa bahwa para calon sarjana, calon doktor dan calon professor harus menjunjung tinggi kejujuran. Setidaknya hal ini dapat menjadi sumbangan kecil untuk perbaikan masyarakat kita, yang sedang dihinggapi penyakit korupsi, plagiat, membeli gelar, menyontek dan lain sebagainya. Inilah tugas berat para ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang menyadari pentingnya etika sains dalam pendidikan sains dan riset di Indonesia.

Filed under: Moral, Pendidikan

Sang Profesor

Ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk.  Itulah kesan yang saya perolehi ketika berjumpa dengan seorang profesor di Osaka University. Beliau juga sangat menghargai saintis-saintis muda, dan memberi peluang kepada mereka untuk maju. Ketika saya berkunjung ke laboratorium beliau, yang dilengkapi dengan fasilitas yang sangat lengkap, selama satu minggu, saya juga mendapatkan kesan bahwa beliau sangat disegani bukan hanya oleh mahasiswa beliau, tetapi juga oleh kawan-kawan beliau.  Prestasi dan prestise adalah dua perkataan yang pernah saya sebutkan sebelum ini dalam blog ini.  Kadangkala kita terlalu gerah untuk mengejar prestise dan melupakan prestasi.  Dengan memanfaatkan “kelemahan” sistem yang ada, banyak diantara kita yang dengan mudah mendapatkan prestise yaitu gelar akademik yang tidak mencerminkan adanya prestasi akademik yang baik.  Pada zaman ini, dengan teknologi komunikasi yang ada, prestasi akademik seseorang atau universitas dengan sangat mudah dinilai oleh orang lain.  Adalah sangat memalukan dan akan merendahkan prestise sebuah universitas jika gelar akademik diberikan kepada seseorang yang tidak mempunyai prestasi akademik yang baik. Menurut pendapat saya, profesor adalah sebuah ‘institusi’, karena dari sinilah ilmu pengetahuan berkembang. Bagaimana ilmu pengetahuan akan bisa berkembang jika ’institusi’ ini tidak memiliki prestasi akademik yang baik, bahkan menghasilkan ‘produk’ ilmiah seperti  publikasi ilmiahpun tidak mampu.  

Hal lain yang saya banyak belajar dengan profesor di Jepang adalah; mereka sangat mementingkan proses dibandingkan hasil.  Mereka sangat memperhatikan kualitas dari proses tersebut.  Hasil yang baik akan akan dihasilkan oleh proses yang baik.  Dengan gelar profesor yang didapatkan dengan prestasi akademik yang baik, proses pembelajaran dari pembimbing kepada mahasiswa akan berlangsung dengan baik.  Bagaimana proses pembelajaran ini dapat berlangsung jika sang Profesor-pun tidak mengerti dengan penelitian yang dibuat oleh mahasiswanya.  Bahkan, mahasiswa tersebutlah yang membuat proposal penelitian (dengan idenya sendiri) sampai mempublikasikan hasil penelitian tersebut.  Sang pembimbing dengan kekuasaannya telah memaksa untuk meletakkan namanya sebagai penulis utama dari publikasi tersebut, supaya cita-citanya untuk meraih prestise akan lebih mudah dicapai. Yang lebih parah lagi, dia akan marah jika mahasiswanya dengan tidak sengaja  terlupa memanggilnya dengan gelar yang disandangnya tersebut.   

Universitas yang hebat adalah universitas yang memiliki profesor dengan prestasi akademik yang baik … Itulah indikator yang paling mudah untuk menilai sebuah universitas.

Filed under: Pendidikan

Prestasi riset universitas di Singapura

Minggu lalu Lee Kuan Yew, minister mentor Singapura mengatakan bahwa Singapura bukanlah negara biasa (ordinary country) seperti tetangganya Indonesia, Malaysia dan  Thailand. Singapura adalah negara yang luar biasa (extra ordinary). Hal ini disampaikannya ketika menjawab pertanyaan mengenai besarnya gaji perdana menteri Singapura dan pegawai-pegawai tinggi di republik tersebut, yang gaji perdana menterinya dua kali gaji George W. Bush, presiden Amerika. Dari segi pendidikan tinggi, pernyataan  Lee Kuan Yew ada benarnya.  Kita tahu bahwa Singapura hanya mempunyai dua universitas iaitu National University of Singapore (NUS) and Nanyang Technological University (NTU). Setelah saya melihat di situs www.scopus.com nampak dengan jelas bahwa dua universitas Singapura tersebut memang extra ordinary jika dibandingkan dengan universitas-universitas di negara tetangganya.  Hal ini terlihat dari jumlah publikasi ilmiah dari dua universitas tersebut (lihat Table di bawah ini) yang dibandingkan dengan negara tetangganya dan juga Jepang, India dan Bangladesh.

Nama Negara

Jumlah artikel ilmiah yang dipublikasikan yang masuk daftar The Institute for Scientific Information (ISI)

Jepang

1,702,775

India

452,205

Singapura

81,255

Thailand

37,376

Malaysia

24,626

Bangladesh

9,336

Indonesia

9,019

Vietnam

1,072

(Data di atas dicatat pada 4 Mei 2007, jam 3.40 sore)

 

Nampak dengan jelas bahwa dua universitas itu saja dapat mengalahkan belasan universitas di Malaysia dan ratusan universitas di Indonesia, padahal dosen dan peneliti di NUS dan NTU hampir sama banyak dengan kebanyakan universitas-universitas besar di Malaysia dan Indonesa. Bayangkan produktivitas setiap dosen yang ada disana. Jika kita bandingkan dengan pendanaan universitas, sudah barang tentu budget universitas di Singapura berpuluh kali lipat jika dibandingkan dengan ITB misalnya.  Namun, budget tersebut mungkin tidak sampai berpuluh kali lipat jika dibanding dengan universitas besar di Malaysia. Apa yang menjadi perhatian saya adalah kualitas sumberdaya mereka. Kualitas dosen dan peneliti di Singapura (yang kebanyakannya adalah orang asing) memang patut dipuji. Saya pikir, kita perlu belajar dari Singapura, bagaimana dia dapat mencapai kemajuan ini.  

 

Satu lagi yang menjadi catatan bagi saya adalah, Prof. Tjia May On (dosen fisika ITB) adalah individu yang paling banyak menyumbang dalam publikasi ilmiah, iaitu 64 jurnal ilmiah. Salut dengan pak Tjia!! Saya mengharapkan semangat dan prestasi pak Tjia patut dicontoh. Dengan fasilitas riset yang relatif tidak begitu lengkap di ITB, pak Tjia masih mampu berkarya.  

Filed under: Pendidikan

Universiti penyelidikan di Malaysia

Sebagai penilai (reviewer) dari beberapa jurnal yang diterbitkan oleh Elsevier, saya mendapat fasiliti untuk melayari laman web Scopus (www.scopus.com), mesin pencari karya ilmiah yang masuk dalam daftar The Institute for Scientific Information (ISI).

Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia telah mengumumkan bahawa hanya empat universiti saja yang diiktiraf sebagai universiti penyelidikan (research university), Universiti Malaya (UM), Universiti Sains Malaysia (USM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Putra Malaysia (UPM). Universiti Teknologi Malaysia (UTM) tidak tersenarai dalam daftar tersebut. Apa keunggulan UM, USM, UKM dan UPM dibandingkan dengan UTM?  Untuk menjawab pertanyaan itu, saya memasukkan nama universiti-universiti tersebut dalam mesin pencari Scopus. Jawapannya dapat anda lihat pada Tabel di bawah ini.

  

Nama Universiti

Jumlah kertas kerja ilmiah yang dipublikasikan yang masuk daftar The Institute for Scientific Information (ISI)

Universiti Malaya (UM)

6,561

Universiti Sains Malaysia (USM)

4,086

Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)

2,611

Universiti Putra Malaysia (UPM)

2,410

Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

1,224

Multimedia University, Malaysia (MMU)

964

(Data di atas dicatat pada 3hb Mei 2007, jam 5.45 petang)

 

Filed under: Pendidikan

Prestasi dan prestise universitas

Prestasi dan prestise merupakan dua perkataan yang kadangkala mempunyai kaitan dan kadangkala tidak. Biasanya jika universitas itu mempunyai prestise, tentulah biasanya dia mempunyai prestasi yang baik. Kita dapat melihat universitas-universtas di dunia yang berprestise tinggi seperi Harvard, Tokyo, Munich, Osaka, Pricenton dan lain sebagainya.  Sebagai dosen dan peneliti yang pernah belajar dan bekerja di negara berkembang (Indonesia dan Malaysia) dan di negara maju (Jepang), saya dapat melihat dengan jelas bahwa prestise tidak dapat didapatkan dengan jalan yang mudah. Indikator yang paling mudah untuk menilai sebuah universitas itu mempunyai prestise yang tinggi adalah ketinggian mutu akademik dari universitas yang bersangkutan.

Nilai-nilai akademik yang baik ini ditunjukkan dengan ‘budaya akademik’ atau ‘budaya ilmiah’ yang telah membudaya dan tertanam di Universitas tersebut. Prestise ini diraih dengan prestasi akademik dan keilmuan dari universitas tersebut. Kita tahu bahwa tanpa ada budaya menulis, keilmuan seseorang tidak pernah akan diakui (atau dikenal) oleh dunia akademik dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, hadiah nobel hanyalah diberikan kepada saintis yang telah mempublikasikan hasil penelitiannya. Penelitian tanpa publikasi adalah ‘omong kosong’, karena tanpa ini ilmu pengetahuan tidak akan berkembang.  Publish or perish” merupakan ungkapan yang tepat dalam bahasa Inggris. Saya pernah membaca disebuah surat kabar ada seorang profesor yang mengatakan bahwa publikasi tersebut tidaklah terlalu penting karena sifatnya yang abstrak. Yang lebih penting adalah komersialisasi dari hasil penelitian. Saya sangat heran membaca pernyataan ini, karena keluar dari seorang dosen yang sudah bergelar profesor. Jika Einstein tidak mempublikasikan teorinya mengenai efek fotolistrik  pada awal abad 20, saya tidak dapat membayangkan bagaimana ilmu spektroskopi  dapat berkembang seperti saat ini.   

Seperti kita ketahui, gelar profesor adalah jenjang akademik tertinggi, yang juga memiliki nilai prestise yang tinggi, yang diberikan kepada Universitas kepada seseorang. Biasanya di Universitas yang berprestise, gelar ini diberikan dengan penilaian yang sangat ketat dan jelas, karena prestise sebuah Universitas tersebut juga bergantung kepada profesor-profesor yang  mempunyai prestasi keilmuan yang yang tinggi, yang biasanya ditunjukkan oleh karya-karya mereka yang berkualitas tinggi yang diakui oleh dunia akademik (bukan oleh lembaga non-akademik).  Sebagai contoh, National University of Singapore (NUS), yang merupakan salah satu universitas terbaik dunia, hanya menerima calon-calon dosen yang berkelayakan tinggi, terutama kepada calon yang telah menunjukkan prestasi akademik dan keilmuan yang baik yang ditunjukkan dengan publikasi di first class scientific journal. Setelah diterima, dosen-dosen ini diberikan fasilitas riset yang juga first class dan sudah barang tentu juga gaji yang lumayan. Inilah menurut saya salah satu resep mengapa NUS maju dan sekarang telah menjadi universitas ternama di dunia.   

Karya berkualitas tinggi biasanya karya yang memberikan terobosan baru atau impak yang tinggi kepada ilmu pengetahun. Bagaimana caranya impak ini diukur? Salah satu cara yang telah diakui adalah dengan melihat apakah karya itu telah dirujuk oleh orang lain (dalam bahasa inggris disebut sebagai citation). Sebagai contoh yang mudah adalah karya Prof. Hideki Shirakawa, pemenang nobel kimia tahun 2000 mengenai polimer yang dapat menghantar arus listrik. Sejak penemuan tersebut dipublikasikan tahun 1977 di sebuah jurnal (Chemical Communications), penemuan tersebut telah membuka mata dunia ilmu pengetahuan bahwa polimer yang dulunya dipercayai tidak dapat menghantarkan arus listrik sekarang telah berhasil disintesis dan dibuktikan bahwa polimer tesebut dapat berfungsi dengan sebagai konduktor seperti halnya logam. Tidak dapat disangsikan lagi, bahwa hasil penelitian yang hanya dua halaman tersebut telah membuka bidang baru dalam bidang kimia dan fisika, yang disebut sebagai metal sintetik (synthetic metal). Oleh karena itu, publikasi tersebut merupakan bahan yang wajib dijadikan referensi kepada bidang metal sintetik. Sudah terbukti bahwa artikel teresebut telah menjadi bahan rujukan dari ribuan penelitian dari bidang tersebut. Dapat disimpulkan bahwa profesor yang hebat biasanya mempunyai publikasi yang hebat. Dengan teknologi internet yang sangat maju sekarang ini, kita dapat dengan mudah untuk mengevaluasi apakah seseorang itu adalah betul-betul pakar dalam bidang keilmuan, sebagai contoh anda dapat menggunakan fasilitas pencarian “google scholar” yang gratis. Tinggal ketik nama, anda akan melihat impak dari karya seseorang, yang dapat dilihat dari berapa banyak hasil penelitian itu dirujuk.  Supaya lebih jelas, anda dapat pergi ke situs-situs yang menerbitkan jurnal ilmiah Elsevier, Springer, Hindawi, ACS, RSC dan lain sebagainya. Dari situ anda dapat melihat bahwa universitas ternama seperti Cambridge, Harvard dan Tokyo terkenal dan diakui karena karya para ilmuwan dan saintis mereka mempunyai impak yang besar terhadap ilmu pengetahuan.  Sudah tentu juga anda dapat membandingkannya dengan universitas yang lain. Dengan cara yang sama, anda dapat mengevaluasi para profesor atau saintis yang anda anggap hebat di universitas dan negara anda.  

Berdasarkan pengalaman saya sebagai dosen dan peneliti, saya dapat melihat bahwa ada universitas yang telah mengambil jalan mudah untuk meraih “prestise” tanpa melihat norma baku terhadap prestasi akademik dan keilmuan. “Prestise” yang saya makudkan disini adalah prestise yang sebenarnya dapat mengelabui masyarakat umum. Kadangkala prestasi-prestasi yang sebenarnya tidak bernilai akademik telah ditonjolkan dan diletakkan sebagai nilai akademik, dan juga telah dipakai sebagai untuk pengiktirafan dan kenaikan pangkat seseorang, bahkan sampai jenjang profesor. Ada istilah yang tepat untuk universitas dan para profesor ini “tong kosong, nyaring bunyinya”.  

Saya yakin, para peneliti dan dosen berpengalaman, yang telah bergelut dan bergelimang dengan dunia penelitian dan pendidikan tentunya tidak dapat dikelabui, mereka dengan jelas dapat menilai apakah sebuah universitas tersebut dapat dikatakan hebat atau tidak adalah dengan hasil penelitian yang telah dipublikasikan (bagi sains) dan juga mempunyai impak terhadap pengguna (bagi teknologi). Dengan kata lain, dalam dunia penelitian ilmiah (sains dan teknologi), betapapun spektakulernya hasil penelitian seseorang tersebut, penelitian tersebut tidak akan pernah selesai jika tidak dipublikasikan. Sekali lagi, ini adalah norma baku yang telah dipakai sejak lama, yang mau tidak mau harus diikuti dan jalani. Jalan ini memang tidak mudah, universitas harus mampu menciptakan suasana dan budaya keilmuan yang baik di universitas masing-masing. Anda dipersilahkan membaca tulisan saya yang berkaitan dengan hal ini, yang berjudul “Refleksi dari pengalaman riset di Jepang” yang merupakan pengalaman saya melakukan penelitian di salah satu Universitas ternama di Jepang pada tahun 1999-2002. Dari tulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa bukanlah mudah untuk menjadi world class university. World class university adalah universitas yang meletakkan prestasi akademik dan keilmuan pada kedudukan yang tinggi dan utama, dan dirambu-rambui oleh etika akademik dan keilmuan.  Dengan inilah sebenar prestise universitas dapat diraih.

Bangunan dan fasilitas yang canggih bukanlah jaminan kepada prestise sebuah universitas.  Saya ada sebuah analogi yang menarik.  Dulu, sewaktu harga cengkeh tinggi, petani cengkeh di Sulawesi mendadak menjadi kaya, sehingga kondisi ini membuat para petani membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang kurang manfaatnya. Saya diceritakan bahwa petani tersebut telah pergi ke kota membeli kulkas, dan kulkas tersebut digunakan hanya sebagai lemari pakaian karena di desa mereka belum ada listrik.  Anda jangan heran dan terkejut jika hal yang sama juga berlaku di universitas yang katanya memiliki pakar-pakar sains dan teknologi. Saya tidak dapat menyebutkan nama universitas tersebut karena masalah etika, tetapi anda para pembaca tentu dapat melihat dan mengevaluasi sendiri universitas-universitas tersebut, karena tujuan saya menulis artikel ini adalah supaya masyarakat atau pengguna produk universitas dapat menilai universitas mana saja yang berprestise dengan prestasi akademik yang baik. 

Sebagai penutup saya mengutip artikel yang ditulis oleh almarhum Dr. Nurcholis Madjid mengenai masalah prestasi dan prestise: “… titik berat penilaian seseorang manusia kepada manusia lain tidak mungkin berdasarkan taqwanya itu an sich, melainkan berdasarkan manifestasi dan pantulan taqwa itu dalam amal lahiriah yang shalih, berbudi dan berakhlak mulia. Justru itulah prestasi (bukan prestise) manusia yang paling cocok…”.

Filed under: Pendidikan

Refleksi dari pengalaman riset di Jepang

(Tulisan ini merupakan sebahagian dari artikel yang telah dipublikasikan di Forum Pendidikan, 28 (2003) 363-371, Universitas Negeri Padang). 

Catatan ini merupakan hasil pengamatan dan pengalaman saya menjadi peneliti selama 3.5 tahun setelah saya menyelesaikan doktor tahun 1998, yang 2,5 tahun dilakukan di Jepang (2 tahun sebagai JSPS postdoctoral fellow dan setengah tahun sebagai COE Visiting Researcher di Catalysis Research Center, Hokkaido University). Tulisan-tulisan saya sebelum ini di ‘Forum Diskusi PPI Hokkaido’ hanyalah bermaksud menggugah kawan-kawan untuk lebih menyadari SWOT (strenghts, weakness, oppurtunities, and threats) dari dunia riset (di Indonesia). Tulisan ini mencoba memberikan sedikit ‘wawasan’ terhadap ‘masalah-masalah’ pendidikan dan riset di Indonesia berdasarkan pengalaman melakukan riset di Jepang. Tulisan ini juga mencoba menjawab pertanyaan; Mengapa Universitas di Indonesia tidak menjadi yang terbaik? Visi kearah ini sebenarnya sudah nampak di Indonesia, yaitu dengan usaha menjadikan beberapa Universitas besar di Indonesia menjadi ‘Universitas riset’. Hal ini beralasan karena Universitas akan menjadi tempat ‘aktivitas intelektual’dan menjadi ‘harta nasional’. Keuntungan sosial dari ini sangat besar, seperti yang diperlihatkan di Amerika, dan dikenal dengan ‘the silicon Valley syndrome‘.

Riset di Jepang

(Di bawah ini saya menceritakan pengalaman dan pengamatan saya mengenai riset di Jepang. Karena mungkin, tulisan ini agak panjang, maka untuk memudahkan, saya menulis merah untuk kalimat kunci.)  

Pengamatan saya di sini memperlihatkan bahwa Profesor dan mahasiswa Pasca sarjana (master dan doktor) di Jepang adalah pekerja keras. Ini diperlihatkan dari jam kerja yang kadang-kadang mencapai 12 jam per hari ! Hal ini juga diperlihatkan oleh staf-staf muda (associate Prof. dan research associate/instructor) yang bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang bersuasana riset, dan mereka tidak dibebani dengan banyak mengajar di depan kelas dan tugas-tugas administrasi. Coba bandingkan dengan Indonesia; Doktor yang baru selesai dari luar negeri langsung dibebani tugas administrasi; seperti Ketua jurusan atau Dekan, bukannya dibebani dengan tuntutan untuk membuat riset. Promosi untuk menjadi Profesor hanya berdasarkan kriteria akademik. Hanya Assoc. Prof. yang berkaliber saja yang diangkat untuk menjadi Profesor. Hal ini terlihat dari track record riset dari Prof. tersebut. Berbeda dengan Indonesia, banyak Prof. di Indonesia yang menjadi Prof. hanya karena mempunyai pengalaman mengajar yang lama dan kedudukan administratif yang tinggi, bukan karena pengalaman melakukan riset. Hal ini terlihat dari publikasi ilmiah para Prof. kita. Malah ada yang sama sekali tidak pernah melakukan riset. Jikapun pernah mempunyai publikasi ilmiah, itupun dulu, ketika dia menjadi mahasiswa doktor di luar negeri.  

Pelajaran berharga lain yang saya peroleh dari melakukan riset di Jepang adalah; ‘tidak semua orang’ dapat menjadi peneliti yang hebat. Banyaknya publikasi dari conference, symposium dan seminar tidaklah memperlihatkan kecanggihan seseorang dalam melakukan riset. Hanya publikasi dari first class journal yang dapat memperlihatkan peneliti mempunyai riset yang hebat. Peneliti yang hebat harus menerima bahwa ide-ide baru akan berakhir dengan keusangan. Dia harus belajar untuk menerima kegagalan, dan mencoba terus-menerus tanpa henti-hentinya. Semua ini memerlukan waktu yang panjang dan konsentrasi, karena riset memerlukan ‘pemikiran yang dalam’ dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek.

Bagaimana mendidik seseorang untuk berinovasi dan menemukan merupakan hal berharga yang saya perolehi dari Prof. saya di sini. Sehingga saya dapat merasakan pengalaman (’sensasi’) dari suatu penemuan tersebut. Selama melakukan riset di sini, kami telah mengusulkan konsep baru dalam bidang katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase-boundary catalysis‘ dan telah dipublikasikan di jurnal yang prestius (Chemical Communications, Journal of Catalysis dan Langmuir). Faktor lain juga sangat menentukan keberhasilan riset saya di Jepang adalah; saya memulai riset ketika laboratorium hanya memiliki empat orang peneliti (Prof., assistant Prof, seorang postdoc dan seorang mahasiswa master), sehingga saat itu kami terpaksa berpikir untuk memulai riset baru. Hal berharga yang dapat diambil dari pengalaman ini adalah; ‘tim riset yang kompak merupakan inkubator untuk memperbanyak ide‘ karena dalam riset yang dilakukan secara tim akan terjadi pertukaran ide, kritik dan kompetisi. Dan ini berarti, riset yang hebat biasanya dihasilkan oleh tim riset yang hebat, bukan dari perorangan.

Budaya ilmiah yang kental sangat terasa di Hokkaido University. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan dari Universitas (University policies). Hal ini ditandai dengan banyaknya seminar antar disiplin ilmu dengan peserta yang banyak. Salah satu hal yang juga sangat mendukung suasana ini adalah tidak adanya politik yang masuk ke administrasi universitas. Hal terakhir ini mulai diterapkan di Indonesia oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pemilihan rektornya tanpa intervensi dari pemerintah. Karena riset di Universitas sangat bergantung kepada program pasca sarjananya, maka kesejahteraan para mahasiswa di Jepang sangat diperhatikan sehingga mahasiswa pasca sarjana menerima gaji yang cukup. Karena inilah ujung tombak dari riset di Universitas. Di Indonesia bukan hanya mahasiswa pasca sarjana, Prof.-pun susah untuk hidup dengan layak jika hanya mengharapkan gaji dari pemerintah.

Refleksi

Saya pernah membaca di sebuah web site, sebuah wawancara dengan peneliti dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang memperoleh gelar doktor dari Tokyo Institute of Technology’ yang mengatakan: ‘tidak satupun yang patut ditiru dari orang Jepang, kecuali iptek-nya’. Komentar saya terhadap pernyataan ini adalah: ‘Sudah demikian hebatnya kah kita?’ Dari pengalaman dan pengamatan saya terhadap riset di Jepang di atas, saya cuma bertanya: What can Indonesia learn from these success story? Walaupun tulisan ini mungkin tidak penting bagi sebahagian kawan-kawan, karena juga pernah mengalami pengalaman dan pengamatan yang sama, bagi saya, ini merupakan ‘bahagian’ terpenting dari perjalanan karir (hidup) saya. Pengalaman 2.5 tahun melakukan riset di Jepang telah membuka wawasan saya, dan mempengaruhi cara berpikir saya dalam memandang dunia pendidikan dan riset. Saya mendapat nasehat dari seorang Prof. dari Italia (Prof. Leonardo Palmisano) yang kebetulan menjadi visiting professor selama tiga bulan di laborotorium tempat saya bekerja. Dia mengatakan kepada saya; “Jangan berhenti melakukan riset, jika berhenti, karirmu sebagai ilmuwan berakhir”. Ada satu lagi nasehat yang disampaikannya kepada saya yang cukup berat untuk saya untuk menjalaninya, yaitu pulanglah ke Indonesia dan kabari saya jika kamu sudah menjadi Profesor di Universitas Jakarta (?) (mungkin maksudnya Universitas Indonesia).
 

Filed under: Pendidikan

Cara Jepang Mengejar Ketinggalan dalam Sains dan Teknologi

(Tulisan ini telah dimuat di Koran Waspada pada bulan Mei 2004) 

Saya ingin menceritakan mengenai cara pemerintah Jepang untuk mengejar ketinggalannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara lain. Dan ini merupakan hal yang saya perolehi dari orientasi yang diselenggarakan oleh JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) untuk menyambut para peneliti (Post-Doc) yang berasal dari sekitar 15 negara yang saya hadiri sekitar empat tahun yang lalu di Tokyo. Dan sebuah presentasi menarik telah disampaikan oleh seorang Prof. emeritus dalam bidang fisika teori dari Tokyo University, beliau menceritakan bagaimana sekarang ini Jepang ketinggalan dari negara maju lainnya dari segi kualitas riset. 

Nah, ketinggalan Jepang itu dalam hal apa? Kita tentu bertanya-tanya, karena sampai saat ini sudah sembilan orang Jepang yang mendapat Nobel dalam bidang kimia (tahun lalu dalam bidang polimer), fisika dan kedokteran, yang menandakan mereka begitu maju dalam sains dan teknologi. Dari data ISI (Institute for Scientific Information) menunjukkan bahwa jumlah paper yang dipublikasikan di jurnal internasional (dalam bahasa Inggris) oleh Jepang hanya kalah dari USA, artinya dari segi kuantitas Jepang menduduki posisi kedua setelah USA dalam hal produktivitas menerbitkan publikasi ilmiah. Porsinya sekitar 40% USA, dan 10% Jepang. Tetapi, dari data statistik, kualitas dari paper yang diterbitkan oleh Jepang kalah dengan USA, UK, Germany dan France, padahal jumlah paper yang dipublikasikan oleh Inggris, Jerman dan Perancis jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Jepang. Pertanyaan lebih lanjut adalah, apakah parameter yang dapat mengukur kualitas dari sebuah paper? Biasanya adalah citation. Citation bermakna, berapa banyak orang merujuk paper yang telah dipublikasikan sebelumnya, atau seberapa jauh “impact of work” dari paper tersebut. Jika sebuah paper menceritakanpenemuan yang betul-betul baru (breakthrough), tentu akan banyak orang merujuk pekerjaan ini. Dan dari “citation per number of paper”, Jepang kalah dari UK, Germany dan France. Faktor lain yang menyebabkan kenapa “kualitas” (tanda kutip karena jangan dibandingkan dengan Indonesia) paper yang dihasilkan Jepang rendah (dan juga bermakna kualitas riset) dari negara-negara yang disebutkan di atas, pertama, adalah masalah struktur pendidikan tinggi di Jepang dan, kedua, adalah masalah budaya.  

Mengenai yang pertama. Di Jepang, setiap lab di kepalai oleh seorang Prof., dan Prof. ini memiliki Assoc. Prof., lecturer dan mahasiswa S1-S3. Ini disebut sebagai “Koza”, unit terkecil dari sebuah jurusan di Universitas Jepang. Prof. ini boleh dikatakan yang memiliki lab., dan Assoc. Prof. nya tidak akan bisa menjadi Prof. di lab. tersebut jika Prof.-nya belum pensiun atau meninggal dunia. Jadi ibaratnya Prof. adalah raja kecil di lab.-nya. Semua peralatan di lab. tersebut, boleh dikatakan dimiliki sendiri oleh Prof. tersebut. Orang lain, selain anggota grup, harus meminta izin kepada Prof. Untuk menggunakannya. Ternyata, sistem ini dianggap mematikan ‘kreativitas’, karena segala sesuatunya harus tergantung dengan “bos”. Lagi pula, apabila seorang telah menjadi Prof. di suatu Universitas, sampai pensiun dia akan tetap disana, dan tidak ada penyegaran di lingkungan itu. Di Amerika, mobility dari peneliti sangat tinggi, mungkin saja seorang Prof. atau Assoc. Prof. akan pindah ke Universitas lain dalam kurun waktu yang singkat. Menyadari hal ini, pemerintah Jepang mulai merubah pelan-pelan sistem yang lama kepada sistem yang baru, yang disebut sebagai “extended Koza”. Dalam sistem yang baru, Assoc. Prof. boleh saja mempunyai latar belakang keahlian yang berbeda dengan Prof.-nya, dan setiap Koza boleh terdiri dari beberapa Prof. dan Assoc. Prof. (ini agak mirip dengan yang di Indonesia). Dan karir dari Lecturer tidak akan terhambat, tidak harus menunggu Prof.-nya pensiun dulu. Tapi sistem ini hanya baru diterapkan di beberapa Universitas di Jepang. Mengenai yang kedua, adalah masalah budaya. Budaya (culture) sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat Jepang merupakan masyarakat agraris yang mengutamakan keharmonian, homogenitas dan kebersamaan. Akibatnya, mereka sangat senang mengikuti trend. Sebagai contoh, sewaktu saya datang kesini, harmoni itu kelihatan dengan jelas dari cara mereka berpakaian. Jarang di antara mereka yang menggunakan pakaian dengan warna yang menyolok (seperti warna “benetton”). Waktu musim dingin, hampir semua mereka menggunakan jaket yang berwarn hitam atau gelap. Dan bentuk dari rumah atau apartemen di Jepang hampir sama, sehingga kelihatan sangat monoton. Dengan gambaran ini, hal ini (dianggap oleh mereka) mengakibatkan jarangnya terobosan baru dalam iptek dibandingkan dengan negara-negara yang disebutkan di atas (sekali lagi jangan dibandingkan dengan Indonesia). Sifat-sifat seperti, individual, loncat antar disiplin ilmu dan menciptakan trend jarang dimiliki oleh orang Jepang. Di samping itu, penghargaan terhadap prestasi ilmiah juga terasa kurang. Anda akan dikatakan lulus, jika Prof. mengatakan lulus. Dan tidak ada penghargaan akademik seperti cum laude, first class dan lain sebagainya jika anda lulus S2 dan S3 dari Universitas di Jepang.

Di laboratorium tempat saya bekerja di Hokkaido University, ada seorang mahasiswa program Master yang akan lulus bulan depan. Karena waktunya mepet, terpaksa penulisan tesisnya dikerjakan ramai-ramai, sehingga Prof.-pun terlambat pulang ke rumah karena mengejar deadline penyerahan tesis. 

Di samping mengubah struktur pendidikan, seperti yang telah diterangkan di atas, pemerintah Jepang meningkatkan budget untuk penelitian dasar (fundamental science) hampir dua kali lipat dalam waktu lima tahun ini. Hal ini berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh Amerika dan negara-negara Eropa lainnya yang menurunkan budget untuk penelitian dasar mereka. Dan baru-baru ini, yang saya baca dari koran, mereka juga merencanakan akan mencetak sekitar 10 orang peneliti berkualitas Nobel dalam waktu lima puluh tahun mendatang dengan dana penelitian dasar yang terus ditingkatkan. Di samping itu, pemerintah Jepang juga mencanangkan menetapkan bahasa Inggris sebagai “second language” dalam abad ini. Hal ini diumumkan resmi oleh perdana menteri mereka. Cara lain yang sedang ditempuh mereka adalah mendatangkan peneliti-peneliti asing sebanyak mungkin ke Jepang, terutama untuk Post-Doc. Mereka juga menargetkan untuk membiayai sekitar 10.000 mahasiswa asing untuk diberi scholarship untuk belajar di Jepang dalam kurun lima tahun ini. Nah, dari contoh-contoh dapat kita lihat bahwa Jepang yang sudah sedemikian maju (dan sekarang masih merupakan negara terkaya ketiga di dunia setelah Swiss dan Luxemburg) masih sadar akan ketinggalan mereka.

Filed under: Pendidikan