Catatan Hadi Nur

Icon

Hanya sebuah blog, jadi jangan dimasukkan ke hati

Alamat baru ‘Catatan Hadi Nur’

Filed under: Mengenai Saya, Umum

Anekdot mengenai pak Harto yang sedang sakit

suharto.jpg 

Gambar di atas dipublikasikan dalam koran berbahasa Cina yang terbit di Malaysia (11 Januari 2008). Terlihat pihak kejaksaan sedang menunggu didepan kamar pak Harto, dia berkata kepada malaikat pencabut nyawa “saya datang lebih dulu!”.

Filed under: Umum

Kartunis Malaysia

mosquito.jpg

Ini adalah kartun yang digambar oleh Mohd Desa Omar yang diambil dari bukunya yang berjudul “The Good, The Bad and The Ugly of M. Desa”, terbitan Berita Publishing Sdn Bhd, Kuala Lumpur pada tahun 2001.

Filed under: Umum

Pintar, Jujur dan Disukai Orang

Saya pernah membaca tulisan, kalau tidak salah, ditulis oleh peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengenai karakter orang yang duduk dipemerintahan di Indonesia. Peneliti ini mengatakan bahwa jarang orang yang duduk dipemerintahan yang memiliki ketiga-tiga karakter ini sekaligus; pintar, jujur (tidak korupsi) dan disenangi oleh para penguasa (dekat dengan pemerintah). Kebanyakan hanya memiliki satu atau dua dari ketiga karakter dan sifat yang baik-baik tersebut. Kalau dia pintar dan jujur, pasti tidak disenangi oleh penguasa. Kalau jujur dan disenangi oleh penguasa biasanya bodoh. Kalau dia pintar dan disenangi oleh para penguasa biasanya suka korupsi.

Sungguh susah memiliki ketiga-ketiga sifat yang baik-baik di atas. Hal yang mirip juga terjadi di lingkungan Universitas. Kriterianya agak sedikit berbeda; betul-betul mempunyai kemampuan akademik yang tinggi, jujur dan disukai oleh rekan sejawat. Kriteria yang pertama “betul-betul mempunyai kemampuan akademik yang tinggi” tersebut tidak didapatkan dari memperbudak dan mengeksploitasi mahasiswa (yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi). Kadangkala mahasiswa tersebut “lebih pandai” dari lecturer-nya — sampai-sampai membuat proposal untuk mendapatkan research grant, publikasi ilmiah dan membuat laporan akhir research-pun dibuat oleh sang mahasiswa. Sang lecturer-pun tidak tahu apa yang dibuat oleh mahasiswanya. Sungguh ironis. Mudah-mudahan banyak lecturer yang muncul dengan ketiga-tiga karakter dan sifat yang baik itu… (dan anggaplah andaian ini hanya prasangka buruk saya saja). Saya hanya ingin universitas ‘kita’ maju dan cemerlang….

Filed under: Moral

Uninterruptible Power Supply-ku meledak

UPS meledakHari ini Uninterruptible Power Supply (UPS) yang dipasang dikamar kerjaku meledak dan terbakar sehingga mengeluarkan asap yang menjadikan kamar kerjaku berbau busuk. Hal ini disebabkan oleh electric tripping yang sering terjadi di Institut tempat saya bekerja — sejak bangunan Institut ini berdiri dengan megahnya pada tahun 2004 dan tidak dapat diselesaikan sampai tulisan ini dibuat. Sangat disayangkan, X-ray Diffraction Spectrometer, Solid State NMR, Trasmission Electron Microscope, Scanning Electron Microscope, peralatan ‘hebat’ yang dimiliki oleh Institut yang harganya jutaan Ringgit Malaysia mungkin akan menjadi korban selanjutnya dari electric tripping ini. Ada satu pertanyaan: Bolehkah penelitian yang hebat dengan peralatan yang berharga jutaan Ringgit tersebut dihasilkan jika masalah electric tripping saja tidak bisa diatasi? Situasi ini mungkin sama dengan ”refrigerator yang dibeli oleh petani kaya yang tinggal di daerah yang tidak ada listrik dikampungnya, hanya digunakan untuk lemari pakaian”.   

Filed under: Umum

Exhibitionist Science: Fenomena baru dalam penelitian ilmiah

Mungkin anda berpikir, binatang apa gerangan ‘Exhibitionist Science’ itu? Sebelum saya menerangkan apa itu Exhibitionist Science, ada baiknya kita mengetahui dua istilah yang tercatat dalam sejarah sains, iaitu Big Science dan Little Science, dimana kedua istilah tersebut menggambarkan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut berkembang melalui proyek-proyek penelitian berskala besar dan kecil. Istilah Exhibitionist Science hanyalah merupakan sifat atau perilaku para peneliti-peneliti yang hanya sedikit atau sama sekali tidak menyumbang kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Istilah ini diusulkan berdasarkan kepada pengamatan saya terhadap fenomena yang terjadi di universitas-universitas yang terletak di negara berkembang. Di bawah ini adalah keterangan singkat mengenai apa itu Big Science, Little Science dan Exhibitionist Science.

Big Science

Istilah ini ditulis dalam majalah ilmu pengetahuan Science pada tahun 1961 oleh Alvin Weinberg, fisikawan dan direktur Oak Ridge National Laboratory di Amerika Serikat. Big Science adalah hasil daripada ekonomi politik dalam bidang ilmu pengetahuan yang dihasilkan setelah Perang Dunia II, dimana pemerintah Amerika Serikat mensponsori penelitian-penelitian berskala raksasa, dimana ratusan saintis melakukan proyek-proyek yang bernilai jutaan dolar seperti membuat bom atom (Manhattan Project) dan Laboratorium radiasi, satu pusat penelitian radar di Massachusetts Institute of Technology. Contoh lain dari Big Science adalah Tsukuba Academic City di Jepang dan Akademgrodok di Soviet.

Little Science

Tidak seperti Big Science yang tujuan penelitiannya sangat jelas dan terancang, Little Science hanya melibatkan peneliti-peneliti (atau dengan para mahasiswanya) yang bebas bekerja sendirian atau dalam kelompok kecil dengan permasalahan penelitian yang mereka pilih sendiri. Walaubagaimanapun, Little Science ini juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam sejarah ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang Fisika Teori.

Exhibitionist Science

Berbeda dengan Big Science dan Little Science, Exhibionist Science ini merupakan suatu sifat dari para peneliti-peneliti atau institusi-institusi yang biasanya berasal dari negara-negara berkembang yang lebih mementingkan kepuasan dari memamerkan hasil-hasil penelitian-penelitiannya, tidak peduli apakah hasil penelitian-penelitian tersebut telah berhasil menemui sesuatu yang baru, mempunyai kontribusi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan diakui oleh saintis-saintis yang lain (peer reviewed) atau tidak. Bahkan ada sebuah universitas yang telah mengeluarkan hampir 60% dari dana penelitiannya hanya untuk memamerkan hasil-hasil penelitiannya di seluruh dunia dan mengsosialisasikan hasil penelitiannya di surat kabar, bukannya di majalah ilmiah yang diakui di dunia akademik. Sepanjang yang saya tahu, Exhibionist Science ini hanya berlaku dalam skala individu, kelompok kecil peneliti dan universitas saja.

Filed under: Umum

Blogholic: penyakit blogger

Yang buat artikel ini: ‘blogholic‘ (makanya hari ini blognya termasuk dalam daftar blog wordpress.com yang tumbuh cepat).

Yang baca artikel ini: ‘bloglurking‘ (biasanya hanya suka baca blog orang lain tanpa ada niat untuk berkontribusi atau menanggapi tulisan yang ditulis)

Ha.. ha.. ha..

Filed under: Umum

Iran: Negara Islam yang paling maju dalam sains

Mungkin kita menganggap Mesir merupakan negara Islam yang paling maju dalam sains karena sekarang mereka sudah mempunyai 2 orang pemenang Nobel (sastra dan kimia). Namun saya cukup terkejut membaca artikel artikel yang ditulis oleh D. A. King yang dipublikasikan di Nature, edisi 15 Juli 2004 yang berjudul “The scientific impact of nations” yang analisisnya menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk dalam 31 besar negara yang paling maju sains-nya di dunia.

Bagaimana D. A. King sampai pada kesimpulannya tersebut? Di bawah ini diterangkan metoda penilaiannya. Dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, parameter penting untuk menilai “scientific impact” adalah produktivitas; yaitu hanya dari jumlah artikel yang dipublikasikan di jurnal, dan sekarang, parameter yang menentukan kualitas dari hasil penelitian tersebut telah dikuantifikasikan ke dalam parameter yang disebut sebagai “impact factor”. Perhitungan nilai impact factor tersebut didasarkan kepada jumlah rujukan (citation) dari artikel yang telah dipublikasikan. Artinya, jika artikel itu banyak dijadikan referensi di artikel yang lain, maka impact factor-nya menjadi tinggi. Banyak lembaga-lembaga pemberi dana riset dan universitas menggunakan impact factor ini dalam menilai pencapaian dosen, peneliti dan mahasiswa.

Sekarang muncul indikator yang lain yang disebut sebagai “Scientific Impact of Nations” yang diusulkan oleh D. A. King. King telah menganalisis jumlah rujukan (citation) dari artikel yang dipulikasikan dari lebih 8000 jurnal dari 36 bahasa yang diindeks oleh ISI Thomson dari tahun 1993-2001, yang terdiri dari jurnal-jurnal dalam bidang sains dan teknologi. Hasilnya, 31 negara ditemui sebagai penyumbang terbesar terhadap 1% atau lebih dari artikel yang paling banyak dirujuk di dunia. Amerika serikat adalah yang teratas diikuti oleh negara-negara eropa, Jepang, Taiwan, Singapore dan nomor 30: Iran! Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang masuk dalam penyumbang terbesar dengan 2152 artikel yang banyak dirujuk di jurnal-jurnal yang dikenal oleh ISI. Jika indikator ini dibandingkan dengan “wealth intensity” (GNP dibagi dengan jumlah penduduk), Iran menjadi nomor 30, dan Amerika serikat tidak lagi menjadi nomor satu. Yang menjadi nomor satu adalah Swiss, sehingga Swiss dapat dianggap sebagai negara yang paling efektif dan pintar dalam memanfaatkan dana riset dan menghasilkan hasil riset yang bermutu tinggi.

Perkembangan sains di Iran dapat dilihat dari perkembangan publikasi ilmiah yang mereka hasilkan. Sebagai contoh, setelah revolusi Iran pada tahun 1979, jumlah artikel yang dipublikasikan di jurnal internasional menurun, yaitu dari 450 artikel pada tahun 1979 menjadi hanya 120 pada tahun 1980. Tetapi, pada tahun 2002 jumlah itu meningkat 20 kali menjadi 2224 artikel. Iran nomor 15 di dunia dalam penelitian ‘string teory’. Hal ini juga berlaku dalam bidang kimia dan matematika. Tidak dapat disangkal, dunia barat terkejut dengan perkembangan sains di Iran ini.

Fenomena yang perkembangan sains di Iran sangat menarik untuk dicermati, dan telah dicoba dijelaskan dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Prof. Farhad Khosrokhavar, profesor sosiologi di E´cole des Hauts E´tudes en Sciences Sociales (EHESS), di Paris yang dimuat dalam Critique: Critical Middle Eastern Studies, (Summer 2004), 13(2), 209–224.

Banyak saintis Iran yang berimigrasi ke barat setalah revolusi Iran. Universitas telah ditutup selama 3 tahun pada masa itu. Perang dengan Irak (1980-1988) juga menambah larinya saintis-saintis Iran ke luar negeri. Melihat keadaan tersebut agak mencengangkan melihat Iran dapat bangkit mengejar ketinggalannya.

Melihat kenyataan bahwa revolusi Iran telah menolak sains sebagai produk dari barat, dan mempromosikan sains yang berbasiskan Islam, telah menyebabkan reaksi yang bebeda dari saintis Iran pada masa itu. Sebahagian berhenti bekerja dalam sains dan menukar profesinya, dan sebahagian lagi malah menjadi “lebih kuat dan bersemangat” dalam mengejar idealisme mereka untuk menjadikan Iran sebagai negara Islam yang maju dalam sains dan teknologi. Pada masa-masa sulit tersebut, sekumpulan matematikawan dan fisikawan teoritis berkumpul setiap minggu di University of Tehran’s Institute of Physics. Diantara mereka adalah matematikawan Reza Khosroshahi, Hosein Zia, dan fisikawan Farhad Ardalan, Firooz Partovi, Hesam ed dine Arfa, and Reza Mansouri dan beberapa professor dari universitas di luar Tehran. Mereka inilah yang membangkitkan kegiatan saintifik di Iran. Yang menarik adalah, kumpulan diskusi ini disatukan dengan ide yang tidak ada sangkut pautnya dengan politik, mereka disatukan dengan ide mengenai keunggulan saintifik! Inilah idealisme mereka. Mereka memilih untuk tidak masuk dalam perdebatan politik dan hanya memikirkan dan berusaha bagaimana mencapai keunggulan dalam sains.

Terdapat dua generasi saintis di Iran yang terkait dengan perkembangan sains di Iran. Generasi pertama dianggap sekuler, dan kebanyakan mereka mendapat pendidikan di barat. Mereka tidak sensitif terhadap terhadap revolusi yang terjadi di Iran. Generasi kedua merupakan generasi yang terlibat dalam revolusi yang menentang rezim Shah Iran. Sebahagian mereka merupakan orang-orang berusaha menegakkan apa yang mereka sebut sebagai “Islamization of knowledge’. Generasi kedua inilah yang merupakan generasi penggerak dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Iran. Atas inisiatif merekalah program doktor (PhD) pertama dibuka di Iran. Dengan dibukanya program PhD ini, barulah timbul kepercayaan diri, bahwa Iran mampu menghasilkan hasil-hasil penelitian yang bermutu tinggi. Institualisasi dari penelitian ilimiah dalam bidang sains juga dimulai dengan program PhD ini. Dengan banyaknya artikel yang bermutu tinggi yang dipublikasikan, dapat dicatat bahwa bahwa mereka telah berhasil menanamkan idealisme keunggulan dalam sains kepada mahasiswa-mahasiswa mereka. Lembaga yang terkenal dalam menghasilkan sainstis tersebut adalah Zanjan Institute of Advanced Studies in Basic Science (IASBS) and Institute for Theoretical Physics and Mathematics (IPM) di Tehran, dan juga di Sharif University of Technology, University of Tehran dan University of Shiraz.

Jadi idealisme dalam mengejar keunggulan sains merupakan kunci keberhasilan Iran dalam memajukan sains, sehingga sekarang Iran termasuk ke dalam negara memiliki “The scientific impact of nations” tertinggi di dunia.

Filed under: Umum

‘Goblok’ bloggers

‘Goblok’ bloggers: inilah idiom yang dikemukan oleh menteri penerangan Malaysia baru-baru ini.  Apakah anda merasa salah satu darinya?  ha.. ha.. ha..

Filed under: Umum

Tampilan baru

Setelah mengotak-atik blog ini, saya menemukan ‘image’ yang saya anggap sesuai untuk blog ini, yaitu foto ‘header’ dimana saya sedang beraksi di depan komputer di kantor saya, yang mejanya jarang saya rapikan…. 

Filed under: Mengenai Saya